Beranda PLESIRAN KULINER JATENG Wedang Ronde, Sajian Para Dewa yang Disukai Orang Indonesia

Wedang Ronde, Sajian Para Dewa yang Disukai Orang Indonesia

98
0
BERBAGI
Wedang ronde, dulu menjadi sesaji untuk para dewa. (foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto)

PERAYAAN Tahun Baru Imlek 2569 tak bisa dilepaskan dari pernak-pernik serta panganan khas yang dijajakan masyarakat peranakan Tionghoa. Namun, tahukah Anda dari sekian banyak makanan asli khas China, wedang ronde merupakan yang paling populer di Indonesia sejak berabad-abad silam.

Yongkie Tio, Sejarahwan di Kota Semarang bahkan mengungkapkan wedang ronde semula bernama tangyuan. Semula wedang ronde dimanfaatkan oleh penduduk di China daratan sebagai sesaji para dewa.

Sebab, selama berabad-abad banyak warga China yang masih memegang mitos jika musim dingin menjadi sebuah kutukan dari para dewa.

“Karena orang China di negara asalnya sana paling takut dengan musim dingin. Maka saat salju turun, mereka berbondong-bondong menyembah para dewa di klenteng sembari membawa wedang ronde sebagai makanan sesajinya,” ujarnya.

Namun fakta menarik justru muncul tatkala para bangsawan China menjelajah sampai ke Indonesia. Yongkie memperkirakan orang China masuk ke Indonesia pertama kali pada tahun 400 Sebelum Masehi (SM). Tak ayal, mereka juga memperkenalkan semua kebudayaan termasuk ciri khas masakannya kepada orang-orang pribumi.

Yang unik, lanjut Yongkie, ketika dibawa masuk Indonesia, wedang ronde justru paling digemari masyarakat lokal. Kondisinya berbanding terbalik dengan yang terjadi di negara asalnya mengingat makanan tersebut menjadi sesaji menyembah para dewa.

“Dalam sejarah Bangsa Cina, wedang ronde malah paling disukai orang Indonesia. Itu memang 100 persen dari China dan biasanya dipakai untuk sesaji para dewa,” bebernya.

Ia menyebut hal tersebut tak lepas dari proses alkulturasi budaya yang dilakukan Bangsa China setiap menjejakan kaki di sebuah negara. Di Pulau Jawa pun banyak orang China yang berbaur dengan orang pribumi sampai menjalin tali pernikahan.

“Ada satu kisah ketika Raja Mangkunegara yang dahulu sempat memiliki selir berdarah China. Inilah sebuah keberhasilan orang China saat dalam berbaur dengan penduduk lokal,” paparnya.

Sementara itu, Sri Waluyo, seorang pedagang wedang ronde di kawasan Simpang Lima mengaku dagangannya laris manis karena pembeli hanya cukup merogoh kocek Rp 7.000 per porsi.

“Ronde terbuat dari tepung ketan yang dicampur sedikit air dan dibentuk menjadi bola, direbus, dan disajikan dengan kuah manis. Ukurannya bisa kecil atau besar, tergantung keinginan pembeli,” tukasnya. (far)