Beranda JATENG RAYA Kajen, Harapan Suara Tanpa Arah

Kajen, Harapan Suara Tanpa Arah

31
0
Proyek seni musik eksperimental Kajen di Gedung Monod Diephuis, Kawasan Kota Lama, Semarang. (foto: metrosemarang.com/Efendi)

 

SUARA-SUARA tak beraturan merebak di dalam Gedung Monod Diephuis, Kawasan Kota Lama, Semarang, Sabtu (16/12) malam. Suara-suara itu tercipta dari berbagai alat musik dan perangkat elektronik yang dimainkan oleh belasan musisi yang tergabung dalam sebuah proyek bernama Kajen. Kendati tak beraturan, bebunyian itu tetap menyatu. Musik eksperimental, begitulah aliran ini disebut.

Kajen merupakan proyek yang diinisiasi oleh Andi Pratomo atau kerap disapa Kartun. Pria asal Semarang ini kini bekerja di sebuah rumah produksi audio di Yogyakarta. Menurutnya, tujuan proyek Kajen untuk membuka keberanian musisi di Kota Semarang. “Agar mereka bermain musik sesuai dengan apa yang mereka inginkan,” kata Kartun.

Ini adalah proyek kolektif. Ada 15 musisi didalamnya. Mereka disuguhi beberapa tayangan video untuk direspon dengan suara dari alat musik yang dimainkan secara spontan. Terserah mereka, sesuai dengan imajinasi mereka. Video yang ditampilkan sendiri merupakan komposisi yang diciptakan oleh Kartun. Video itu diharapkan dapat memberi ruang imajinasi para musisi yang terlibat dalam proyek ini.

“Kami akan menampilkan tiga komposisi musik merespon video yang ditayangkan. Pertama 15 menit, kedua 20 menit, dan terakhir 15 menit,” ujar Kartun mengawali pertunjukan di hadapan puluhan penonton.

Berbagai jenis alat musik serta perangkat elektronik mulai mengeluarkan suaranya, menyusul video yang sudah mulai diputar. Suara-suara itu menyatu mengiringi tayangan video yang diputar. Meski sesuka hati, tetap ada instruksi. Instruksi diberikan oleh Kartun, ada saat pada musisi itu memainkan alat bergantian, ada saat mereka serempak membunyikannya.

“Video yang ditampilkan disediakan untuk memberi ruang imajinasi para musisi. Namun, mereka memainkan atau tidak alat musiknya, itu berdasarkan arahan yang saya berikan,” ujar Kartun.

Berkali-kali Kartun terlihat mengepalkan kedua telapak tangannya untuk memberi kode kepada belasan musisi yang duduk berdampingan membentuk setengah lingkaran mengelilinginya. Kedua tangannya juga sesekali mengayun ke bawah menghadap ke musisi yang ia kehendaki untuk menghentikan suara yang dimainkan. Untuk memulainya kembali, musisi tersebut menunggu komando dari Kartun.

Puluhan penonton yang hadir tampak terpukau menyasikan dan mendengarkan perpaduan alat musik yang dimainkan sesuai keinginan pemainnya malam itu. Riuh tepuk tangan terdengar meriah di setiap akhir sesi.

 

Lintas Daerah, Lintas Genre

Belasan musisi yang tergabung dalam proyek ini tidak semuanya berasal dari Semarang. Beberapa dari mereka berasal dari luar kota seperti Yogyakarta, Tuban, Salatiga, dan Jember. Sebagian dari mereka bahkan belum pernah kenal satu sama lainnya.

“Yang dari Semarang saja juga, paling hanya sekedar tahu. Mereka punya band sendiri-sendiri. Sebenernya ini semua jaringannya memang dari saya,” kata Kartun.

Kartun juga mengatakan, kegiatan yang diselenggarakan bersama komunitas penggiat seni, Hysteria ini baru pertama kalinya digelar. Tak hanya itu, proyek ini juga melibatkan belasan musisi dari latar belakang musik yang berbeda-beda.

“Di luar project ini mereka semuanya mempunyai keseharian masing masing dalam bermusik. Ada metal, jazz, ska dan lain-lain. Maka disini saya ingin memberikan ruang kepada mereka untuk mengekspresikan apa yang mereka mau dengan cara merespon video yang saya buat. Jadi tidak ada patokan,” imbuh pria 42 tahun itu.

 

Mulai Naik

Kajen, nama proyek ini dalam Bahasa Jawa berarti dihargai. Dengan begitu, Kartun berharap kedepannya musik eksperimental bisa diterima dan di hargai oleh masyarakat luas.

“Untuk saat ini memang musik eksperimental di Indonesia sudah mulai naik. Karena yang paling besar komunitasnya itu di Jogja. Musisi eksperimentalnya di Jogja itu sudah banyak yang main di luar negeri. Maka dari itu sudah banyak didengar sampai luar negeri. Namun kalau di Semarang sendiri menurut saya belum begitu banyak. Ya ada beberapa satu atau dua,” beber Kartun.

Kartun berencana tetap akan mengadakan proyek-proyek serupa dengan berbagai macam konsep. Bahkan, tidak menutup kemungkinan ia akan melibatkan musisi-musisi lain untuk bergabung dalam olah seni suara ini.

“Proyek ke depan seperti apa? Ya tunggu Desember tahun depan. Karena memang ini proyek tahunan. Dan saya ini menyebutnya seni suara ya, karena suara apa saja bisa jadi musik. Ada misalnya orang siul pun bisa jadi musik, tepuk tangan, bergumam juga itu bisa jadi musik,” pungkas Kartun. (Efendi)