Home > JATENG RAYA > Gudang Pestisida Ilegal di Demak Terbongkar

Gudang Pestisida Ilegal di Demak Terbongkar

Pestisida yang dijual dalam kemasan tanpa label dan keterangan ditemukan di gudang milik Suparno, Desa Kembangarum, Mranggen, Kabupaten Demak. (foto: metrojateng.com/Efendi)

SEMARANG – Jajaran Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah berhasil mengungkap penyimpanan pestisida jenis hebrisida ilegal. Pestisida ilegal itu disimpan di Gudang milik Suparno yang terletak di Desa Kembangarum, Mrangggen, Kabupaten Demak. Di dalam gudang tersebut ditemukan ribuan liter Pestisida yang siap di edarkan.

“Mereka beli pestisida beberapa drum dari Jakarta dengan beberapa merk. Kemudia mereka ecer dan dikemas kembali tanpa label serta ijin edar,” ujar Kasubdit I Indagsi Ditreskrimsus Polda Jateng AKBP Egy Adrian Suez, Rabu (25/10).

Egy menambahkan, pestisida yang telah dikemas ulang tersebut dinyatakan ilegal lantaran tidak mencantumkan ijin edar beserta komposisi kandungannya. Pestisida kemasan ulang ini hanya dikemas menggunakan botol polos berkapasitas 0,5 dan 1 liter.

“Jadi di botol tersebut juga tidak ada petunjuk pemakaian dan juga larangan pemakaiannya, padahal seharusnya itu harus ada,” imbuh Egy. Pihaknya belum mengetahui kandungan pestisida yang dikemas kedalam botol-botol polos tersebut. Pihaknya akan mengirim barang bukti tersebut ke Labfor untuk mengidentifikasi kandungan apa saja yang ada di dalamnya.

“Kami belum bisa memastikan ini pestisida oplosan atau bukan. Bahkan belum bisa dipastikian ini pestisida beneran atau bukan. Tapi dalam penjualannya memang pestisida namun tak berlabel,” bebernya. Dalam pengungkapan tersebut, polisi juga mengamankan beberapa peralatan untuk mengemas kembali pestisida tersebut.

Pestisida ini sudah di perdagangkan di beberapa wilayah di Jawa Tengah Sejak beberpa tahun lalu. Diantaranya adalah Demak, Grobogan, Semarang, dan Boyolali. Satu liter pestisida dijual dengan harga Rp 43 ribu dan dalam sebulan, tersangka bisa memperoleh omzet sekitar Rp 300 juta.

Sementara tersangka Suparno kini dijerat dengan pasal 60 ayat (1) huruf g jo pasal 36 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman dan Undang-undang RI No.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman pidana maksimal lima tahun atau denda maksimal senilai Rp2 milyar. (fen)

Ini Menarik!

Hadapi Natal dan Tahun Baru, TPID Gelar Operasi Pasar di 58 Titik

Share this on WhatsApp SEMARANG- Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah kembali menggelar …

Silakan Berkomentar