Home > JATENG RAYA > Indahnya Tabepuya, Sakura dari Magelang

Indahnya Tabepuya, Sakura dari Magelang

Bunga-bunga Tabepuyapun bermekaran depan kompleks kantor Pemkot jalan sarwo Edi. Bunga Tabepuya yang mirip bunga sakura di Jepang menjadi pemandangan tersendiri. (foto: metrojateng.com/ch kurniawati)

MAGELANG – Ketika musim penghujan tiba, ada pemandangan indah yang menghiasi wajah kota Magelang. Deretan pohon Tabepuya yang mirip dengan Sakura di Jepang, mulai berbunga. Itu bisa didapati di beberapa ruas jalan kota. Salah satu pemandangan yang cukup mencolok ada di depan kompleks kantor Pemkot Magelang di Jalan Sarwo Edi.

Warga yang melintas di jalan tersebut mengagumi keindahan bunga-bunga yang bermekaran. Ada warna putih dan merah muda. “Ini yang selalu saya tunggu-tunggu. Bunga tabepuya bermekaran. Menambah indah. Apalagi kalau pagi hari diterpa cahaya matahari, sangat indah,” kata Ambar, warga Blondo yang melintasi jalan tersebut.

Selain di depan kompleks kantor Pemkot, Tabepuya juga bermekaran di sepanjang Jalan Bambang Sugeng yang menghubungkan Magelang dengan Yogjakarta. Di daerah Jalan Ahmad Yani dekat komplek Kodim 0705 dan juga di jalan Majaphit, semua berbunga secara serentak.

Karena keindahan bunga ini, pemerintah setempat berinisiatif untuk menanam dengan jumlah yang lebih banyak. Tahun ini, akan ditanam pohon yang bernama latin Chrysotricha ini di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Tidar, Jalan S Parman, dan Jalan Tentara Pelajar.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang, Machbub Yani Arfian mengatakan, jika di bulan Oktober ini merupakan puncak bermekaran jenis tanaman Tabepuya  ini. Butuh waktu dua tahun, dari pertama ditanam hingga mampu menghasilkan bunga-bunga yang indah.

“Jadi ini menjadi moment yang cukup langka, karena harus menunggu berbulan-bulan untuk melihat keindahan bunga ini,” ujar Machbub. Meskipun indah, namun, imbuh Machbub, tanaman ini ada kekurangannya. Bunga-bunga yang bermekaran mudah rontok.

Ia menyebutkan, DLH Kota Magelang tahun ini sudah menanam sebanyak 1.000 pohon tabebuya di titik-titik tertentu. Pohon tersebut dipilih menjadi alternatif perindang di Kota Sejuta Bunga, karena selain berbunga indah, juga kontur akarnya tumbuh ke bawah.

Sifat dari akar tanaman ini tunggang dan tumbuh ke dalam, sehingga tidak merusak trotoar. Sebagian besar pohon perindang yang sudah berusia tua, diganti  dengan Tabepuya, agar tidak muncul gelombang jalan.

Dikatakan Machbub, kekuatan dahan pohon ini lebih baik daripada tanaman keras lainnya. Namun demikian, perawatan dan pemeliharaan harus rutin dilakukan, apalagi jika sudah memasuki musim penghujan.

Saat ini, DLH juga  intensif mengerahkan ptugas, guna  memantau dan melihat dahan-dahan pohon perindang. “Bila ada keropos atau rentan patah, maka pihaknya langsung melakukan perabasan,” katanya. (MJ-24)

Ini Menarik!

Wuling Tawarkan Layanan Purnajual, Renault Tak Pasang Target Muluk

Share this on WhatsApp    SEMARANG – Wuling dan Renault merupakan dua pemain baru dalam …

Silakan Berkomentar