Beranda JATENG RAYA Jual Pil Koplo, Edo Berdalih untuk Sekolahkan Adik

Jual Pil Koplo, Edo Berdalih untuk Sekolahkan Adik

2
0
BERBAGI
Tersangka Edo Drajat Widiardi ditangkap karena diduga menjadi penjual Pil Yandio dan Pil Dextromethorphan. (foto: metrojateng.com/Efendi)

SEMARANG – Seorang tersangka penjual Pil Koplo diamankan oleh petugas Polsek Semarang Tengah. Tersangka bernama Edo Drajat Widiardi ditangkap karena diduga menjadi penjual Pil Yandio dan Pil Dextromethorphan. Saat ditangkap petugas mengamankan lebih dari 2000 pil Yandio dari tangannya.

Edo mengaku, ia harus menjual pil tersebut karena keterbatasan ekonomi. Ia menjual pil tersebut untuk kehidupan sehari-harinya, bahkan ia mengaku hasil penjualannya juga untuk menyekolahkan adiknya yang kini duduk di bangku SMK.

“Ya buat kehidupan sehari-hari mas, buat nyekolahin adik saya juga sekarang sudah SMK,” ujar Edo, Jumat (29/9).

Edo kulakan obat-obatan terlarang tersebut melalui orang yang dikenalnya di media sosial dan kini berada di Jakarta. Dengan berhubungan melalui telfon seluler, Edo biasa memesan barng tersebut dan dikirim menggunakan jasa ekspedisi. Dalam sebulan, Edo mengaku bisa menjual sekitar satu hingga dua toples yang berisi 1000 pil Yandio setiap toplesnya.

“Ya kalau beli saya biasanya langsung dua toples, satu toplesnya isinya 1000 butir dan saya beli seharga Rp 900 ribu,” ujarnya.

Setelah mendapat barang tersebut, kemudian Edo mengemasnya menjadi bungkusan kecil berisi 10 butir Pil Yandio. Setiap satu bungkus kecil tersebut dijualnya dengan harga Rp 15 ribu rupiah. Jadi dalam satu toples pil Yandio, Edo bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp 600 ribu.

Edo mengaku biasa menjual obat-obatan yang tidak memiliki izin edar tersebut kepada para anak jalanan. Ia juga mengaku tidak menjualnya kepada anak di bawah umur. ”Ya biasnya yang beli datang ke rumah. Biasanya ada yang bawa kentrung, bawa gitar gitu,” ujar Edo.

Namun usaha Edo kini harus berakhir. Ia ditangkap polisi pada Senin (25/9) lalu di rumahnya Kampung Malang, RT 002 RW 004, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah. Atas perbuatannya, Edo yang juga merupakan residivis dengan kasus yang sama ini dijerat dengan Pasal 196 dan atau Pasal 197 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda senilai Rp 1,5 Milyar. (fen)