Home > JATENG RAYA > Kurir 1 Kg Sabu Diringkus, Istrinya Turut Terjerat

Kurir 1 Kg Sabu Diringkus, Istrinya Turut Terjerat

Adi Suryanto alias Adi Pitik, tersangka perantara pengiriman 1 kg sabu. (foto: metrosemarang.com/Efendi)
SEMARANG – Sepasangan suami istri ditetapkan sebagai tersangka pengedar narkoba. Mereka adalah Adi Suryanto alias Adi Phitik, alias AS dan istrinya berinisial PR, warga Jalan Cimandiri, Mlatiharjo, Semarang Timur. Keduanya diduga terlibat pengiriman 1 kg sabu-sabu dari Jawa Timur, akhir April lalu.
PR ditangkap lebih dulu, oleh Jajaran Direktorat Reserse Narkoba (Diresnarkoba) Polda Jawa Tengah, tepatnya pada 30 April 2017. Kendati belakangan PR tidak ditahan. Penangkapan diawali dari informasi yang diterima polisi terkait adanya sabu-sabu masuk ke wilayah Jawa Tengah dari Jawa Timur. Polisi menelusuri pergerakan sabu-sabu dan mengerucut pada alamat yang ditinggali PR dan AS di Mlatiharjo.
Penggeledahan lantas dilakukan di rumah tersebut. Polisi mendapatkan 2,5 ons sabu-sabu dan 703 butir inex dari dalam kamar. Namun saat itu operasi tak berjalan mulus. AS gagal ditangkap, ia melarikan diri. Polisi lantas menginterogasi PR yang kemudian mengaku mengetahui bahwa barang-barang tersebut milik suaminya.
“Pada penangkapan pertama tanggal 30 April, bukan AS yang ditangkap. Saat itu ada hal teknis, kami perkirakan akan membahayakan petugas maupun warga sekitar. Sehingga saudara Adi Pitik ini gagal kami tangkap, melarikan diri. Lalu istrinya kami periksa dan mengakui barang barang tersebut milik suaminya,” ungkap Direktur Reserse Narkoba Polda Jateng Kombes Pol Krisno Halomoan Siregar pada saat gelar kasus tersebut di Mako Ditresnarkoba, Selasa (12/9).
AS baru bisa ditangkap Senin, 4 September 2017 lalu di rumahnya sekitar pukul 18.30 lalu. Dari hasil pemeriksaan terakhir, AS mengaku dikendalikan oleh seorang penghuni Lembaga Pemasyarakatan di Jawa Tengah berinisial Mr C. AS ditugasi Mr C untuk mengambil barang dari Jawa Timur lalu diminta mengantarnya ke tempat yang ditentukan.
AS mendapat upah Rp 3 juta untuk sekali pengambilan dan pengantaran barang. Ia mengaku telah lebih dari sekali memenuhi perintah Mr C. AS sendiri sebetulnya merupakan mantan narapidana kasus yang sama. Ia bebas tahun 2011 lalu. Kini AS kembali menghadapi jeratan pidana yang sama, dan mendekam di sel tahanan Polda Jateng. AS dijerat Pasal Pasal 114 ayat (2), subsider Pasal 112 ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman pidana penjara maksimal 20 tahun.
Sedangkan PR tidak ditahan, lantaran hanya dikenakan Pasal 131 Undang-Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman pidana maksimal satu tahun penjara dan denda Rp 50 juta. Pengenaan pasal tersebut kepada PR lantaran ia dianggap mengetahui adanya pidana penggaran UU Narkotika, namun tidak melaporkannya kepada yang berwajib. (fen)

Ini Menarik!

1 Sura, Ribuan Warga Kendal Rebutan Nasi Bungkus

KENDAL – Ribuan warga dari sejumlah daerah saling berdesakan dan berebut nasi sura dalam peringatan Haul …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *