Home > JATENG RAYA > Pengen Jajan Menu Jadul? Ada di Tempat Ini Selama Sepekan

Pengen Jajan Menu Jadul? Ada di Tempat Ini Selama Sepekan

Lezaatnesia, festival jajanan jadul di Semarang. (foto: metrosemarang.com/Fariz Fardianto)

SEMARANG – Komunitas Kuliner Semarang kembali menghadirkan sebuah festival bertajuk ‘Lezaatnesia’ yang mampu memanjakan lidah warga yang tinggal di Ibukota Jateng tersebut. Para pemanja lidah dapat menikmati ragam kuliner jadul dalam festival tersebut selama enam hari, mulai 5 September-10 September.

Firdaus Adinegoro, Koordinator Komunitas Kuliner Semarang menyebut, dalam festival tersebut dirinya menghadirkan 70 jenis menu jadul yang mampu menggoyang lidah para kulinerista.

“Ada 70 menu yang kami hidangkan di sini merupakan kombinasi antara hidangan lokal dan internasional. Menu-menu tersebut dijual di 60 lapak dengan harga terjangkau,” kata Firdaus kepada metrosemarang.com, saat membuka acaranya di pelataran Mal Sri Ratu Jalan Pemuda, Semarang pada hari ini.

Ia mengatakan makanan jadul yang tersaji mulai dari nasi glewo, bubur kacang tanah, nasi bebek kosek telur asin, nasi tempong, bebek gepuk asap kemangi, sambal panggang, sate jamur, soto bebek hingga babi asap.

Menurutnya menu tersebut rata-rata semakin jarang dijual oleh warga Semarang. Nasi glewo misalnya, lanjut Firdaus bahkan sudah asing terdengar di telinga warga lokal. Padahal, makanan tersebut sempat populer pada era 70’an.

“Karenanya, kami ingin memperkenalkan lagi nasi glewo kepada masyarakat luas. Ini adalah kuliner yang sangat melegenda di Semarang. Selain itu, masih ada bubur kacang tanah, nasi tempong dan masih banyak lagi,” ungkapnya.

Ragam menu jadul itu juga diimbangi dengan kuliner dari berbagai negara macam talam asal Thailand maupun burger. Namun, ia memastikan harga puluhan menu yang dijual di Festival Lezzatnesia cukup murah mulai Rp 10 ribu-30 ribu.

“Kami memilih menggelar acaranya pada pekan ini agar tidak terbentur dengan liburan panjang Idul Adha. Kalau Idul Adha kan semua orang makan daging. Maka kami memberikan alternatif menu lain diluar momentum tersebut,” tuturnya.

Sedangkan bagi Samin, seorang penjual bubu kacang tanah, festival di Sri Ratu jadi momentum untuk memperkenalkan dagangannya kepada pengunjung. Terlebih lagi, bubur kacang tanah kini makin sulit ditemui di pusat kota. Kepopuleran bubur khas Pecinan ini merosot seiring maraknya makanan siap saji (fast food) yang hadir di Semarang.

“Karena pembelinya berkurang, saya akhirnya keliling memakai gerobak sampai ke Pedurungan,” aku warga Wonodri ini.

Ia telah 15 tahun berjualan bubur kacang tanah. Makanan itu cocok disantap pada pagi hari lantaran mengandung biji kacang tanah yang dipadukan kacang hijau dan santan. Harganya pun hanya Rp 10 ribu semangkuk. (far)

Ini Menarik!

Borobudur Marathon, Sejumlah Jalan Disterilkan

Share this on WhatsAppMAGELANG – Bank Jateng Borobudur Marathon (BJBM) 2017 yang digelar Minggu (19/11), …

Silakan Berkomentar