Home > JATENG RAYA > EKONOMI BISNIS > 300 Tukang Bangunan Magelang Ikuti Uji Kompetensi

300 Tukang Bangunan Magelang Ikuti Uji Kompetensi

Para peserta Uji Kompetensi Sertifikasi Tenaga Kerja Konsruksi (tukang bangunan umum) sedang melakukan praktik sebagai bagian dari uji kompetensi di Universitas Tidar Magelang, Senin (27/11). (foto: metrojateng.com/ch kurniawati).

 

 

 

MAGELANG – Jurusan Teknik Sipil Universitas Tidar Magelang menggelar Uji Kompetensi Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi untuk tukang bangunan umum, Senin (27/22). Kegiatan itu diikuti oleh 300 tukang bangunan dari wilayah Kota dan Kabupaten Magelang.

Ketua Jurusan Teknik Sipil Universitas Tidar Magelang, Muhammad Amin menyebut, sertifikasi kompetensi sangat diperlukan tukang bangunan. Hal itu untuk menghadapi kompetisi dalam bidang industri konstruksi yang makin ketat, terutama di era Mayarakat Ekonomi ASEAN (MEA) seperti saat ini.

Saat ini, telah ditemui sejumlah tenaga kerja asing yang mengerjakan proyek infrastruktur dalam negeri. Sertifikat kompetensi merupakan syarat utama dalam menghadapi persaingan tersebut. “Sertifikat kompetensi yang dari suatu lembaga tertentu,” kata Muhammad Amin.

Menurut Amin, uji kompetensi penting untuk dilaksanakan secara berkala. Sehingga tenaga tukang di Indonesia mudah untuk mengikuti sertifikasi sesuai keahliannya masing-masing.

Uji kompetensi di gedung Universitas Tidar Magelang itu sendiri dilaksanakan bersama Balai Jasa Konstruksi Wilayah IV Kementrian PUPR, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Magelang, Asosiasi Tenaga Ahli Pemborong Indonesia (ATAPI) Wilayah Jawa Tengah dan PT Holcim Indonesia. Sebelumnya para peserta dibekali materi tentang Alat Pelindung Diri (APD) dan teknik-teknik pertukangan.

Dalam tahap ujian mereka menjalani ujian praktik dan wawancara. Untuk praktik, yang dilakukan adalah membuat pondasi saluran air. Hasil praktik merupakan barang jadi yang nantinya bisa dimanfaatkan.

Hasil penilaian penguji dijadikan acuan pemberian sertifikat kompetensi. Bagi yang tidak lolos atau tidak memenuhi standar hanya akan mendapat sertifikat pelatihan dan dapat mengikuti uji ulang di kemudian hari.

Salah satu penguji dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK), Tohari mengatakan tukang yang bersertifikasi mempunyai nilai lebih tinggi dibanding dengan tukang tanpa sertifikasi.

“Proyek-proyek besar membutuhkan tenaga tukang bersertifikat, karena itulah syarat utama untuk mengikuti tender,” katanya. Menurut Tohari, tukang bersertifikat berpeluang memiliki penghasilan yang lebih besar dibanding dengan tukang biasa. Sebab dengan sertifikat itu membuka peluang bagi tukang untuk turut menggarap proyek besar.

“Tukang bersertifikasi bisa kerja diluar negeri. Kemampuan atau skill mumpuni jika tanpa sertifikat, tidak akan laku di luar negeri,” katanya. (MJ-24)

Ini Menarik!

Gempa 6,9 SR Terasa Sampai Semarang, Warga Berhamburan Keluar Rumah

Share this on WhatsApp SEMARANG – Sejumlah warga Kota Semarang berhamburan keluar rumah setelah gempa …

Silakan Berkomentar