Home > JATENG RAYA > 3 Korban Miras Oplosan Kendal Masih Diawasi Dokter

3 Korban Miras Oplosan Kendal Masih Diawasi Dokter

Salah seorang warga Kaliwungu yang menjadi korban miras oplosan. (foto: metrojateng.com)

KENDAL – Tiga korban miras oplosan yang dirawat di Ruang Flamboyan RSUD Soewondo Kendal mulai membaik. Kendati begitu, ketiganya masih berada di bawah pengawasan dokter. Kepala Ruang Flamboyan RSUD Soewondo, Subari menjelaskan bahwa kondisi, ketiga orang tersebut sudah bisa duduk dan diajak berkomunikasi.

“Kecuali Beni, dua pasien lain sudah bisa mengonsumsi bubur. Kondisi tubuh sudah terlihat segar. Keluhan mual dan pusing sudah berkurang. Mereka juga kami periksa kondisi matanya,” katanya.

Jika kondisinya sudah betul-betul pulih, dan dokter mengizinkan pulang, barulah pasien diperkenankan untuk pulang. “Yang menentukan pasien boleh pulang kapan itu wewenang dokter yang merawat,” tutur Subari.

Salah satu korban, Arifin mengatakan, pusing di kepalanya sudah berkurang. “Awal masuk rumah sakit, masih merasakan pusing dan lambung seperti ditusuk dengan jarum,” ucapnya.

Sementara Fredy Santoso, masih mengalami cegukan. Ia sudah diperkenankan makan bubur oleh dokter yang merawat. “Rasa pusing dan mual sudah berkurang, meski saya masih sering cegukan,” tukas Fredy.

Sementara itu, proses penyelidikan terus dilakukan Polres Kendal. Kasat Reskrim Polres Kendal, AKP Aris Munandar ketika dikonfirmasi bahwa sampai saat ini pihaknya masih melakukan pendalaman atas penyelidikan terkait peristiwa yang menyebabkan empat orang meningggal.

Dijelaskan, sejumlah saksi juga sudah dimintai keterangan. Termasuk salah seorang warga Sumbersari Kaliwungu yakni Haryono yang menjual dan meracik minuman. Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa warga lain yang meminum rajikan Haryono, tidak mengalami sakit seperti tiga korban yang dirawat, ataupun empat orang yang meninggal.

“Kami masih mendalami apakah korban yang meninggal itu juga karena mengkonsumsi miras jenis ciu oplosan racikan Haryono. Dia hanya sebatas dimintai keterangan. Untuk itu, kami masih mengembangkan kasus ini dengan meminta keterangan sejumlah saksi,” jelas Aris Munandar.

Aris mengakui, pihaknya agak kesulitan untuk melakukan penyelidikan melalui proses otopsi. Sebab pihak keluarga korban tidak menginginkan dilakukannya otopsi. “Jika barang bukti tidak ditemukan, sebenarnya untuk mengetahui penyebab meninggalnya korban ya melalui proses otopsi. Sayangnya dari pihak keluarga korban tidak menginginkan,” paparnya. (MJ-01)

 

Ini Menarik!

Menikmati Desa dari Bangunan Kolonial Hotel Garuda

Share this on WhatsApp   BERADA tak jauh dari Gunung Telomoyo, Hotel Garuda yang merupakan …

Silakan Berkomentar