iklan
Home > HEADLINE > Ini Caranya Terhindar dari Riba Saat Tukar Uang di Jalan

Ini Caranya Terhindar dari Riba Saat Tukar Uang di Jalan


 

JEPARA – Sejak awal Raman hingga jelang lebaran bermunculan jasa penukaran uang di sepanjang Jalan Kartini Jepara, Jawa Tengah. Uang yang ditawarkan mulai pecahan Rp1.000 hingga Rp20 ribu.
Seorang jasa penukaran uang Muhammad Rudi, warga Bengetayu Kota Semarang mengaku, menerima jasa penukaran uang lantaran selama Ramadan penjualan ikan sepi. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Bayu menerima jasa penukaran uang.  

“Baru tahun ini. Sehar-hari saya jualan ikan di Tangerang,” ujar Rudi, Selasa 13 Juni 2017.

Disinggung mengenai bisnis yang dilakoninya saat ini, Rudi menampik jika yang dijalankan adalah binis jual beli uang. Apa yang dia kerjakan saat ini, menurutnya adalah jual jasa.
“Jasa yang saya maksud adalah dalam menukarkan uang di bank dan untuk transportasi saya kesini. Saya juga tidak memaksakan warga untuk menukarkan uangnya,” beber Rudi.

Dalam menjalankan usahanya, Rudi mengaku hanya meminta jasa 10 persen dari nilai uang yang ditukar.

Agar binis jasa penukaran uang halal dimata hukum islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jepara Mashudi, meminta masyarakat teliti sewaktu bertransaksi penukaran uang di jalanan. Itu untuk menghindari praktik riba ataupun penipuan yang dapat merugikan konsumen. 

“Terkait ada uang jasa, kalau diantara pemilik jasa tukar dan yang menukarkan saling meridhoi tidak masalah, asalkan tidak berlebihan,” terang Mashudi.

Dalam menukarkan uang, Mashudi menghimbau, sebaiknya konsumen menghitung uang di tempat transaksi. Hal itu bertujuan agar jumlah uang yang ditukarkan sama dengan yang diterima, tidak ada kekurangan jumlah. Disamping itu, penjual jasa penukaran uang juga harus jujur dalam memberikan keterangan kepada konsumen. 

“Kalau ada orang menukarkan uang Rp100 ribu, namun konsumen hanya mendapatkan Rp90 ribu dan dia (pemilik jasa) masih memungut lagi itu yang dikatakan riba. Namun kalau ada yang menukarkan Rp100 ribu, dia dapatnya Rp100, jika ada uang jasanya Rp10 ribu itu dapat dimaklumi. Asalkan sudah saling ridho dan sepakat,” jelasnya. 
Mashudi menggarisbawahi, agar antara pemilik jasa dan konsumen terjadi pemahaman sebelum transaksi disepakati. Disamping itu, konsumen juga harus meneliti jumlah serta keaslian uang yang diterima. (oby)

Ini Menarik!

Polisi Gagalkan Niat Sukartono Jual Miras Pas Takbir Keliling

Share this on WhatsApp​ DEMAK – Sukartono, warga Kampung Krapyak, Bintoro Kabupaten Demak memang bejat. …

Silakan Berkomentar